Baru aja dikasih tau temen soal film Indo baru, judulnya "Kita Punya Bendera". Bercerita tentang seorang anak keturunan Tionghoa yang mengalami semacam 'krisis identitas'. Terutama waktu disuruh ngisi formulir dan di dalemnya ditanya soal 'Keturunan'.
Buat lebih jelasnya silakan liat trailernya di sini dan baca reviewnya di sini dan di sini.
Gua sendiri ngalemin hal yang sama kaya' Timmy. Ga di Indo... ga di Sg... pertanyaan ini selalu ditanyain. Dan gua sampe sekarang kadang suka bingung mo jawab apa. 'Krisis identitas' nih :)
Waktu sekolah, sering banget disuruh ngisi formulir yg nanyain soal suku/etnis/keturunan, gua kadang mikir dulu mo jawab apa. Pengennya sih jawab "Sunda", soalnya gua lahir & besar di Bandung, SD-SMP belajar bahasa Sunda, di rumah pun pake Sunda, ngobrol sama beberapa temen pun pake Sunda, ga pernah pake Mandarin. Tapi... kalo gua jawab Sunda, pasti ntar heboh dan dipanggil guru. Hehe... Lagipula orang Sunda nya juga emang mau ngakuin gua sebagai bagian dari mereka? :p
Waktu di Sg... Pas interview gua suka ditanya, "Are you Indonesian?".
Ya gua jawab "Yes."
Tapi biasanya si penanya bakal nanya lagi, "You mean... Indonesia-Indonesian?"
Kalo dah gini gua bakal mengernyitkan dahi. Berhenti sebentar. Udah pengen banget ngomong, "Maksud loe !?! Ambigu banget. Apa maksudnya 'Indonesia-Indonesian'? Bahasanya ga sophisticated banget si! Bilang aja native ato indigenous!"
Tapi biasanya dengan sabar gua bakal jawab, "Errmm... I'm Indonesian"
"Chinese-Indonesian?" (biasanya sambil ikut2an mengernyitkan dahi dan nadanya mulai hati2)
"Well... some people refer as that, but I prefer to be referred as 'Indonesian'"
"But you are Chinese descendant, rite?"
Duuhhhh... ni orang ngotot banget! Ya udah, gua jawab, "Yes."
Baru mereka menunjukkan tampang lega karena dah dapet jawaban.
Dan gua jadi bete :(
Another case, waktu gua di Imigrasi Sg, waktu pengurusan Permanent Resident. Petugasnya bilang kalo gua harus ngisi pilihan soal ras. Gua tanya pilihannya ada apa aja. Dia kasih liat di layar komputernya. Ada Chinese, Hokkien, Indian, Malay, dll.
Terus gua tanya, "Do you have 'Indonesian' as a choice?"
Si petugasnya, dan juga seorang staff penyedia jasa imigrasi yang nemenin gua ke kantor imigrasi, masang tampang bingung.
"Ermm... No." kata petugasnya.
"Okay then... Chinese."
Kasus terakhir yang gua alemin tuh sekitar 2 minggu lalu waktu gua pergi sama sahabat karib gua di Jakarta nemenin dia ke rumah ortu cowonya. *I know...it's kinda weird, but I have to go there :)* Pacarnya sahabat gua tuh orang Batak.
Waktu di rumahnya, gua diajak ngobrol sama bokapnya cowonya temen gua.
"Ade' namanya siapa?"
"Ita, Om."
"Kristen?"
"Iya, Om."
"Ahh... bagus... bagus... Kita itu punya satu Tuhan. Ga peduli Batak, ga peduli Manado, semuanya satu di hadapan Kristus."
"Bener, Om."
Lalu si Om cerita2 sedikit soal rumahnya. Ga lama kemudian Om nanya lagi, "Ade orang apa?"
"Lahir di Bandung, Om"
"O.. orang apa ya?"
Baru ngeh ternyata si Om nanya soal suku.
"Ermm... Sunda, Om."
"Hah! Orang Sunda? Ga ada orang Sunda yang putih kaya' gini."
"Err... keturunan Tionghoa, Om."
"O.. ya.. pantes.. pantes.. keturunan ya.."
Haha! Si Om emang lucu. Ternyata beliau penasaran juga. Dan mungkin nganggep gua orang Manado (yg katanya kulitnya putih)
What an experience! Dipikir2... nekat juga gua jawab Sunda :p
Well.. yg jelas gua personally masih bingung. Gua tau faktanya kalo gua keturunan Tionghoa. Tapi diliat dari kehidupan gua sehari2, ga bisa dibilang Tionghoa juga. Lebih keliatan Sunda daripada Tionghoa.
Kalo mo jujur, dalam opini pribadi gua, istilah "Chinese-Indonesian" (C-I) itu seharusnya dihapus. Istilah pembentuk tembok pemisah kaya' gitu, menurut gua, ga usah ada lah.
Yah... tapi memang hal kaya' gitu ga memungkinkan. Kehidupan berbangsa & bernegara itu ada aturannya sendiri. Scholar2 juga masih memerlukan istilah C-I dalam research2 yang mereka jalani tentang relasi & proses asimilasi C-I dengan pribumi.
Kalo ditilik2, istilah C-I emang agak riskan karena sejarahnya juga. Sebenernya akar permasalahan dimulai dari masa penjajahan Belanda dimana penjajah menetapkan pemisahan menjadi 3 strata: strata paling tinggi adalah Belanda & keturunannya, di bawahnya adalah Timur Asing (Chinese termasuk di sini), di bawahnya lagi pribumi (pri). Chinese (C) diberi hak mengurus segala hal berbau bisnis/perdagangan dan orang pri mengurus pemerintahan. C dikasih perumahan tersendiri yang terpisah. Jelas asimilasi jadi sulit. Dan karena ngurus perdagangan, C jadi lebih banyak duit, lebih makmur daripada pri. Apakah ini bisa dibilang adil?
Lanjut... jelas pri pengen juga banyak duit donk, dan satu2nya hal yang bisa mereka bisa pake sebagai 'alat' cari duit adalah kedudukan mereka sebagai pejabat pemerintahan. Mereka punya otoritas mengatur peraturan & perijinan dagang.
Bayangin... C punya duit, pri punya kedudukan... ada yang bisa dibarter donk... ada simbiosis mutualisme... dan di situ dimulailah yang namanya korupsi... C kasih duit, pri 'meloloskan'/'mempermudah'...
Jelas waktu itu mereka belon mengenal istilah 'korupsi'. Buat mereka, praktek itu merupakan praktek yang wajar dan, bahayanya, jadi mendarah daging.
Bayangin apa yang udah diwariskan oleh penjajahan Belanda terhadap kehidupan sosial Indonesia. Pengkotak-kotakan etnis dan korupsi. Warisan yang, menurut gua, sangat buruk. Apa mo kita pertahanin warisan yang kaya begini?
Kembali ke soal keturunan. Masih banyak hal yang harus gua 'beresin' soal persepsi gua terhadap latar belakang gua. Tapi yang jelas, kalo gua ditanya, gua ga bakal bilang kalo gua C-I, kecuali terpaksa banget. "Indonesia" aja udah cukup.
Hidup Indonesia satu! :)