Saturday, January 1, 2011
Kutipan dari Novel-Novel Berbahasa Indonesia
Tidak seperti biasanya, dalam liburan ini saya sama sekali tidak tertarik untuk wisata kuliner. Saya memang lapar dan haus, tapi bukan terhadap makanan, melainkan bacaan, terutama segala bacaan berbahasa Indonesia. Target saya yang pertama adalah Buku "Marmut Merah Jambu" karya Raditya Dika, blogger yang menginspirasi saya untuk memulai blog.
Ketika saya mencari buku tersebut di salah satu toko buku terbesar di Bandung, ternyata habis. Ketika saya tanya apa ada novel tetralogi Laskar Pelangi yang buku kedua hingga keempat, petugasnya juga bilang sudah tidak ada lagi. Jadinya saya membeli Power Bible Comic edisi 5-9 (karena saya sudah membaca edisi 1-4 di Singapura). Kebetulan sedang diskon 20% :) Kemudian saya juga membeli novel "Negeri van Oranje", "Negeri 5 Menara", dan dwilogi "Padang Bulan" karya Andrea Hirata. Plus, yang selalu tidak dilupakan, komik Detektif Conan! :)
Di hari-hari setelahnya, ketika mengunjungi toko buku di mall-mall, secara terpisah saya berhasil membeli buku "Marmut Merah Jambu", Novel "Sang Pemimpi" dan "Edensor" (buku kedua dan ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi). "Maryamah Karpov", buku keempat, tidak saya beli karena kehabisan duit (hasil kekalapan membeli buku di hari-sebelumnya) >.<
Akhirnya, selain merayakan Natal bersama keluarga dan kumpul bareng teman-teman, liburan saya lewatkan dengan membaca buku. Kebetulan (?) saya sakit batuk berat dan sempat ke dokter, jadi saya mengisi waktu istirahat di rumah dengan membaca. Semua buku yang saya beli, kecuali "Power Bible Comic 9" dan "Edensor", telah habis dibaca. Dua buku favorit saya, "Sang Pemimpi" dan "Negeri 5 Menara", saya rekomendasikan teman-teman untuk membaca! "Sang Pemimpi", jika boleh saya singkat, mendeskripsikan secara kuat arti dari persaudaraan, pengorbanan, dan perjuangan meraih mimpi. Saya dibuat tertawa dan menangis ketika membaca buku ini. Sedangkan novel "Negeri 5 Menara" sangat menyentuh kalbu dengan nasihat-nasihat tentang hidup yang sarat dengan spiritualitas (karena buku ini berkisah tentang anak-anak yang bersekolah di pondok pesantren)
Di blog post ini, saya tidak akan memberikan review, tapi hanya mengutip saja, seperti yang pernah saya lakukan pada novel "Laskar Pelangi" di postingan terdahulu. Selamat menikmati kutipan-kutipan sarat makna ini. Semoga ini mendorong teman-teman untuk membaca langsung novelnya, karena dengan mengerti konteksnya tentu teman-teman akan lebih merasakan dan mengerti secara dalam apa makna dari kutipan-kutipan ini. Namun saya juga hendak memberi peringatan kepada teman-teman, kutipan-kutipan ini mengandung spoiler! Hati-hati!
Kutipan-kutipan dari Novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi (penerima 8 beasiswa luar negeri)
Halaman 0
“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
-Imam Syafii-
Halaman 35
“Menurut Pak Kiai kamu, pendidikan Pondok Madani (PM) tidak membedakan agama dan non-agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.”
Halaman 41
“man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!... Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana tapi kuat. Yang menjadi kompas kehidupan kami kelak.”
Halaman 50
“Menuntut ilmu di PM bukan buat gagah-gagahan dan bukan biar bisa bahasa asing. Tapi menuntut ilmu karena TUhan semata. Karena itulah kalian tidak akan kami beri ijazah, tidak akan kami beri ikan tapi akan mendapat ilmu dan kail. Kami, para ustad, ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlaskan pula niat untuk mau dididik” –Kiai Rais-
Halaman 78
Aku sempat bimbang, kenapa orang diajar menjadi seorang whistle blower?
“Sekarang semakin banyak orang semakin tak acuh dengan kebobrokan di sekitar mereka. Metode jasus adalah membangkitkan semangat untuk aware dengan ketidak beresan di masyarakat. Penyimpangan harus diluruskan... Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit. Ini adalah self correction, untuk memberikan efek jera. Dan yang paling penting, memastikan semua warga PM sadar sesadar-sadarnya, bahwa jangan pernah meremehkan aturan yang sudah dibuat. Sekecil apapun , itulah aturan dan aturan ada untuk ditaati.”
Halaman 106
“Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup... Misi yang dimaksud adalah ketika kalian melakukan sesuatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan di saat yang sama menikmati prosesnya. .. Carilah misi kalian masing-masing. Mungkin misi kalian adalah belajar Al-Quran, mungkin menjadi orator, mungkin membaca puisi, mungkin menulis, mungkin apa saja. Temukan dan semoga kalian menjadi orang yang berbahagia “
Halaman 112
“Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik”
Halaman 139
“Tapi ini kan hanya masalah kecil, Cuma pelajaran kesenian,” bela Ayah.
“Justru karena ini hal kecil. Jangan sampai dia meremehkan suatu hal, sekecil apapun. Semua pilihan hidupnya ada konsekuensi, walau hanya sekadar pelajaran kesenian...”
“Tapi kan dia baru 6 tahun.”
“Justru malah dari usia ini kita didik dia.”
Halaman 157
“...Memang SMA itu masa yang indah... Kita Cuma agak stress kalau mau ujian saja. Selebihnya adalah bermain. Kalau di PM, setiap hari kita seperti ujian... Tapi yang indah bukan berarti masa yang paling berguna untuk mempersiapkan mental dan kepribadian kita.”
Halaman 253
“Karena saya tidak punya tanah, yang saya wakafkan adalah diri saya sendiri saja.”
“Artinya?”
“Semuanya. Semua waktu, pikiran, dan tenaga saya, saya serahkan hanya untuk PM. Tidak ada kepentingan pribadi, tidak ada harapan untuk dapat imbalan dunia, tidak gaji, tidak rumah, tidak segala-galanya. Semuanya ikhlas hanya ibadah dan pengabdian pada Allah... Bukankah di Al-Quran disebutkan bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi?”
Halaman 296
“Jiwa keikhlasan dipertontonkan setiap hari di PM. Guru-guru kami yang tercinta dan hebat-hebat sama sekali tidak menerima gaji untuk mengajar. Mereka semua tinggal di dalam PM dan diberi fasilitas hidup yang cukup, tapi tidak ada gaji. Dengan tidak adanya ekspektasi gaji dari semenjak awal, niat mereka menjadi khalis. Megajar hanya karena ibadah, karena perintah Tuhan. Titik.
Begitu niat ikhlas terganggu, seorang guru biasanya merasakannya dan langsung mengundurkan diri. Akibat seleksi ikhlas itu, semua guru dan kiai punya tingkat keikhlasan yang terjaga tinggi yang artinya juga energy tertinggi. Dalam ikhlas, sama sekali tidak ada transaksi yang merugi. Nothing to lose. Semuanya dikerjakan all-out dengan mutu terbaik, karena mereka tahu, cukuplah Tuhan sendiri yang membalas semuanya. Tidak ada transfer duit dan materi di PM. Hanya transfer amal, doa dan pahala. Indah sekali.”
Halaman 405
“Negaraku surgaku, bila tiba waktunya, kita wajib pulang mengamalkan ilmu, memajukan bangsa kita”
Kutipan-kutipan dari Novel “Negeri van Oranje”
Halaman 290
“Blessed is he that learns to admire, but not to envy”
Halaman 427
“Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.”
Halaman 433
“A country is only as great as its people... Kalau orang Indonesia sendiri gak membanggakan negaranya, gimana negara kita mau terkenal? Boro-boro objek wisatanya...”
Kutipan-kutipan dari Novel “Padang Bulan” karya Andrea Hirata
Halaman 188
“Duru guru mengajiku pernah mengajarkan bahwa pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu.
Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan untuk melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang agar nasibnya berubah.
Namun sayang, tak semua dapat mengungkap rahasia itu dan beruntunglah sedikit orang yang memahami maksud dari sebuah pertemuan...”
Halaman 196
“Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.”
Kitipan-kutipan dari Novel “Cinta di dalam Gelas” karya Andrea Hirata
Halaman 98
“Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar”
Halaman 99
"Maryamah adalah pribadi istimewa yang tak punya tabiat mengasihani diri. Ia tak pernah mengiba-iba. Kupandangi guru kesedihan itu. Hari ini aku belajar satu hal penting darinya bahwa jika tidak bersedih atas sebuah kehilangan menimbulkan perasaan bersalah, hal itu merupakan kesalahan baru, sebab kesedihan harusnya menjadi bagian dari kebenaran.
Pertemuan dengan Maryamah hari ini meletupkan semangatku. Aku telah melihatnya belajar bahasa Inggris dengan susah payah, tanpa merasa ragu akan usia dan segala keterbatasan, dan dia berhasil. Sekarang, ia siap berjibaku menguasai catur, dengan tekad mengalahkan seorang kampiun seperti Matarom. Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut."
Halaman 155
"Kami punya warung kopi dengan menu kopi miskin, yaitu kopi bagi mereka yang melarat sehingga tak punya yang cukup untuk membeli kopi biasa. Namun, ganjarannya, ia mendapat kopi tanpa gula sebab harga gula mahal. Maka, kopi miskin adalah kopi pahit, sepahit-pahitnya, seperti nasib pembelinya.
Pamanku yang berjiwa lapang dan merupakan umat Nabi Muhammad yang amat pemurah, menyediakan kopi miskin dalam menu warungnya. Sesekali, secara diam-diam, pamanku menyuruh kami mennambahkan gula untuk kopi miskin, karena ia tak sampai hati pada kaum yang papa itu. Namun, aneh, pembeli melarat yang telah terbiasa dengan kopi miskin malah tak menyukai hal itu. Pelajaran moral nomor 33: kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin."
Kutipan-kutipan dari “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata
Halaman 60-61
“Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah potongan mozaik. Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang. Namun, perlahan potongan itu akan bersatu membentuk bak montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu, apa pun yang kaukerjakan dalam hidupmu akan bergema dalam keabadian... Maka, berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!”
Halaman 120
“Betapa aku membenci WC. Di mana-mana, kita selalu menjumpai WC yang tak keruan. Di rumah-rumah, di sekolah-sekolah, di jamban umum, di terminal, di kantor-kantor pemerintah, bahkan di rumah-rumah sakit. Mengapa banyak orang Indonesia jorok?” :p
Halaman 133
“Namun, tak pernah kusadari bahwa sikap realistis itu sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan dekat degan rasa pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.”
Akhir kata, saya senang karena banyak novel-novel Indonesia sekarang yang menyinggung tentang dunia pendidikan sehingga pada saat membacanya orang-orang Indonesia bisa terdorong untuk terus belajar, menimba ilmu ke negara lain, menimba ilmu setinggi langit, menimba ilmu dunia dan akhirat *yang seharusnya tak terpisahkan*.
Saya pun dibuat semangat untuk memulai, setidaknya, semester berikutnya. Selamat datang tahun baru dan semester baru! :)
Monday, March 22, 2010
FX Harsono: Testimonies
You may also read the newspaper article here.
More on FX Harsono:
This is his official website. And you may see some of his video works here.
FX Harsono is an Indonesian, Chinese descent, Catholic, and was born in Java island. His background is quite similar with mine except that I am Protestant and receive Sundanese influence, while he is Catholic with Javanese influence.
I must say that I can really relate myself to his artworks.
My tears dropped when I watched his documentary, nDudah.
It was totally subconcious. I didn't even have time to hold back my tears. After I realised that I cried, I can't stop even if I wanted to... It is just so unexpected. Lucky not so many people there, but there was a museum officer that noticed and she kept looking at me. Paiseh! :p
I started to cry on the last part of the video when locals Indonesians rescued and took care of some of the Chinese-Indonesians survived from the mass murder. It is, for me, "a glimpse of hope" in the midst of a horrible setting. I sensed hope for unity, love, peace, and most importantly, forgiveness.
But the best artwork displayed that trigger me to reflect deeply is his "Rewriting the Erased".
Here is what the exhibition brochure explain regarding this particular installation:
"In a darkened room, FX Harsono sits at a table with paper, ink, and a brush. Slowly he begins to write his name in Chinese character by character *"The only three Chinese characters that he knows," claimed the curator who guided us*. He repeats this, placing each sheet of paper with the three Chinese characters on the floor, and starts to write on the next sheet, until the entire floor is papered over with his name.
In this poignant and meditative peformance, the artist seeks to remember - reclaim - that which has been lost or erased. Being of Chinese descent in Indonesia meant that Harsono, like many others, was cut off fom his Chinese 'roots' and culture through a series of government policy aimed at fully assimilating Chinese immigrants into Indonesian society. These measures, implemented duing Suharto's New Order regime, included requiring all Chinese immigrants into Indonesian society. These measures, implemented during Suharto's New Order regime, included requiring all Chinese to change their names to Indonesian-sounding ones, as well as the closure of Chinese schools, press and organisations. The end of Suharto's New Order in 1998 witnessed the lifting of these estrictions, and the Chinese wee once again able to use their original names.
During this time, Harsono began to question the seemingly conflicting facets of his identity: Indonesian, Chinese, and Catholic. For most of his life, he had to practice a 'politics of denial' in orde to feel that he belonged somewhere, and this meant the suppression of this 'Chinese' identity. Now that he is free to reconnect with this forgotten, or repressed, aspect of himself, he seems to question, through his work, if that past still holds any significance for him, or is it, when revisited, simply a series of empty and meaningless gestures, taking shape as ideographs from a language and culture that Harsono can only half-understand? The gestures of the artist are filled with both pathos and power, as he attempts to reclaim a past that is at once intensely pesonal as it is politically inflected."
The moment I read the brochure, the first thought that came to my mind was "Wah... it is SO me!"
Anyway, my Chinese name is 蔡秀云 [cài xiù yún]
蔡 [cai] is family name.
秀 [xiu] means
1. adjective [清秀] elegant
2. adjective [优异] outstanding
3. noun talent
云 [yun] means cloud.
It sounds beautiful, I must say, but I didn't know what it means. I just called my Dad to ask about it, but he wasn't at home. So maybe I'll post it later.
I sometimes think whether to let my Chinese name known for people who finds it difficult to pronounce my Indonesian name (in these case my fellow Chinese Singaporean or mainland Chinese colleagues and friends). But I never do that. Not because I rejected my Chinese background, but because I'm afraid that I will ignore people when they call me 秀云 as I'm not used to it!!! :p
Well, I love my Indonesian names, especially my surname. It is interesting how 蔡 was translated to Sulayman. Doesn't make any sense fo me. Lim family translated their name to Salim. Make sense. Tio translated to Tioranu. Make sense. But Cai to Sulayman? I didn't see any connection between both :p
Well.. Sulayman is Indonesian term for Solomon, the king that asked for wisdom. I just realised it when I was 7 years old.
Believe it or not, wisdom is one of the main spritual gifts that I received from GOD. And till today... I always try to live my name... constantly asking GOD to grant me HIS wisdom.
Well, this reflection on identity will be getting more interesting for me as I am planning to go to China this May.
Allow me to quote another article:
"In a 2007 trip to China, FX Harsono found that he was a stranger there too. 'Who am I? When I question one thing about identity, if I find one answer, I find another question. It never stops,' he says...
In spite of the dark episodes he has witnessed and researched, he has never considered living elsewhere. He says: 'I love Indonesia. Even if the situation and the economy is not as good as maybe Singapore, I still love it.' ...
He adds: 'In Indonesia, I get a lot of inspiration for art. If I move to other countries that are more comfortable, maybe I won't get such inspiration?'" :)
Cannot wait to experience China. Will I move forward to the same conclusion? Hmm... life is just getting more interesting for me ;)
Monday, February 22, 2010
Respon
"Anonymous has left a new comment on your post "Selamat Tahun Baru Cina (atau Tiongkok?)":
"loe selalu bilang loe orang indonesia, orang sunda dengan bangganya. Pertanyaannya: apa org indo n org sunda nganggep loe bagian dari mereka? Sadly gua bilang, mereka akan sll anggap loe Cina. Kalo loe ngotot loe bangga jadi org indo/sunda, gua cuma bilang kasian deh loe karena loe kaya jatuh cinta bertepuk sebelah tangan. A chinese who don't know their true identity is.. just sad.. "
Untuk anonymous, ini komentar saya terhadap komentar kamu. Persiapkan pikiran dan hatimu :)
Saya baru saja menjadi penggemar Socratic methodology. Mentor saya mengajarkan metodologi ini sebagai salah satu metodologi yang dipakai agar saya bisa memahami hal-hal terdalam dari segala hal.
Dari namanya, bisa diliat kalo kata itu berasal dari nama salah satu filsuf ternama, yakni Socrates. Metodologi itu jika disingkat adalah: menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Sebenernya metodologi ini ga bisa dipake untuk sembarang orang. Dengan orang yang saya kenal selewat saja, saya ga akan pake metode ini. Tapi komentar Anda benar-benar menggelitik saya untuk mengaplikasikannya pada Anda. Kenapa? Karena metode ini akan mempersingkat jawaban saya. Jujur kalo saya harus menjawab dengan jawaban yang proper, akan sangat panjang dan makan waktu.
Komentar kamu:
"loe selalu bilang loe orang indonesia, orang sunda dengan bangganya. Pertanyaannya: apa org indo n org sunda nganggep loe bagian dari mereka? Sadly gua bilang, mereka akan sll anggap loe Cina."
Respon saya:
-Apa kamu menganggap diri kamu orang Cina? Kalau ya kamu menganggap diri kamu orang Cina, saya mau bertanya balik, apakah orang Cina dari Tiongkok menganggap kamu bagian dari mereka?
-Apa kamu pernah tau diagram Venn? Kalo kamu baca blog post saya baik-baik, terutama bagian terakhir, kamu akan mengerti dasar pola pikir saya.
-The ultimate question: Sebegitu pentingkah apa yang orang lain anggap tentang diri kita? Apakah hidup dan identitas kita diatur oleh pandangan-pandangan atau anggapan-anggapan atau penerimaan orang lain terhadap kita?
Share pengalaman pribadi (yang berguna untuk pemikiran lebih lanjut):
-Bos saya di pekerjaan yang dulu adalah warga negara Singapura. Mamanya etnis India, papanya etnis Cina. Dalam salah satu pembicaraan tentang etnis, saya pernah bertanya pada dia, "So, what do you consider yourself?". "Singaporean. That's it."
-Di kantor saya sekarang, ada seorang wanita A warga negara Singapura etnis Cina dan ada seorang pria B yang warga negara Tiongkok. Percaya atau tidak, sang wanita A pernah marah-marah sampai lempar-lempar barang pada sang pria B sebagai ekspresi kekesalan karena sang pria B mengolok-ngolok warga negara Singapura. "Orang Singapura begini... begitu...". (satu Cinakah?)
Senior Manager C, yang warga negara Singapura etnis India, tidak ada di tempat kejadian. Kemudian C memanggil A untuk menanyakan apa yang terjadi. A menjelaskan duduk perkaranya. Selesai A bercerita, C berkata, "Saya ngerti kenapa kamu kesal. Kalau saya berada di posisi kamu, saya juga akan merasa kesal." (satu Singapurakah?)
-Baru saja saya alami sore tadi! *saya tidak pernah percaya pada sebuah kebetulan*
Entah Anda tau atau tidak, saya di sini bekerja mengajar pembantu rumah tangga Indonesia. Pada saat tadi saya mengajar, saya tidak sengaja mengeluarkan logat Sunda. Kemudian mereka kaget dan bertanya,"Lho, koq logatnya seperti Sunda?".
Saya jawab, "Saya orang Bandung."
Reaksi mereka, "Wah, saya kira orang Cina! Ternyata Sunda."
Saya jawab, "Saya keturunan Cina".
Mereka mengangguk-angguk saja. Dan semenjak momen itu mereka jadi sering nyeletuk bahasa Sunda pada saya. Ada satu momen dimana salah satu kolega Indo saya datang ke kelas menanyakan sesuatu. Saya jawab, "Ga ada." Murid-murid saya tiba-tiba nyeletuk "Teu aya" (bahasa Sunda). Saya, murid-murid itu, dan kolega saya tertawa bersama-sama. Dan tentu saja, ini membuat suasana menjadi tambah akrab.
Bahasa Sunda saya ga fasih koq, saya hanya bisa bahasa Sunda kasar (sedangkan yang baik adalah bahasa Sunda halus)
Oya, ngomong-ngomong soal bahasa, saya punya pertanyaan:
Do you believe in one universal language called 'love'?
Learn this language, and you will be able to communicate with anyone. Believe me.
Saya punya beberapa pengalaman yang bisa saya bagiin soal ini. Saya ada rencana akan membuat satu blog post berjudul "Love as the Universal Language" yang didasarkan atas 1 Korintus 13. berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mudah2an bisa terealisasi. Hehe..
Komentar kamu:
"Kalo loe ngotot loe bangga jadi org indo/sunda, gua cuma bilang kasian deh loe karena loe kaya jatuh cinta bertepuk sebelah tangan."
Respon saya:
-"Jatuh cinta bertepuk sebelah tangan"... Analogi yang menarik.. tapi kembali lagi ke pertanyaan soal cinta: Apa sih definisi cinta sejati menurut kamu? Apakah cinta itu pamrih? Apakah cinta itu mengharapkan balasan? Apakah cinta akan membuat kita sakit?
Komentar kamu:
"A chinese who don't know their true identity is.. just sad.."
Respon saya:
"A man that doesn't know his/her true identity... needs help..."
Pertanyaan:
-Apakah identitas kita hanya ditentukan oleh etnisitas?
-Dimanakah kita bisa mencari identitas diri kita yang sejati? Melalui etnisitas kitakah? Melalui ilmu psikologikah? Melalui Sang Penciptakah?
One more question: Apa kamu pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dengan orang Sunda atau orang Indonesia non-Chinese? Saya pernah. Kamu bisa baca pengalaman saya di sini. Dan saya bersyukur atas pengalaman ini, karena ini adalah salah satu proses pembelajaran dalam hidup saya. Saya belajar banyak dari pengalaman keluarga saya di-persecute orang lain.
Akhir kata:
Buat saya, identitas saya di dunia bukanlah yang terpenting.
Saya percaya akan kehidupan setelah kematian. Kehidupan itu akan jauuhhhhhh lebih panjang daripada kehidupan kita di dunia (karena dalam kekekalan). Dan saya percaya ada dua alternatif dalam kehidupan setelah kematian, Sorga atau neraka.
Saya percaya bahwa saya adalah warga negara Indonesia dan warga negara Sorga. Menjadi warga negara Indonesia adalah hal yang penting, tapi menjadi warga negara Sorga adalah yang terpenting. Mengapa? Karena yang satu itu bersifat sementara. Saya bisa saja berpindah kewarganegaraan jadi warga negara Singapura atau apapun. Tapi yang satu lagi bersifat kekal (tidak bisa diubah untuk selamanya).
Pertanyaannya: Mana identitas yang lebih penting untuk dicari kebenarannya? Yang sementara atau yang kekal? Sudahkah Anda yakin jika setelah meninggal Anda akan menjadi warga negara Sorga?
Monday, October 26, 2009
My Heart Boiled When I Read This News.... Ministry of Foreign Affairs Must Do Something!
KUALA LUMPUR (AFP) - – An Indonesian maid who was allegedly severely beaten by her Malaysian employers, and then bound and locked up in a toilet for two days, has died in hospital, police said Monday.
A Malaysian market vendor and his wife have been arrested over the abuse of 36-year-old Mautik Hani from Surabaya, in the latest in a series of cases that have prompted Indonesia to temporarily ban sending domestic workers here.
The neighbours are negotiating a deal on salaries and conditions aimed at preventing mistreatment of maids, who currently have no legal safeguards on their working conditions.
"I can confirm that Mautik Hani has died in hospital," district police chief Mohamad Mat Yusop told AFP.
"We have to wait for the hospital's report on her cause of death before deciding on the next course of action regarding her employers. They are still being detained," he added.
Hani was rescued from her employers' home a week ago. She was found by another Indonesian cleaner hired to replace her who noticed a foul smell coming from a locked bathroom.
Police said that when she was found she was tied up around her arms and legs, and was bruised all over her body. Among her injuries were a serious wound to the right leg that exposed the bone.
Local papers reported Hani had been abused by her employers almost daily during the two months she worked at their home.
One of Asia's largest importers of labour, Malaysia depends heavily on domestic workers, mainly from Indonesia, but has been criticised for not passing legislation to govern their rights and conditions.
In May, the government announced plans for new laws to protect domestic workers from sexual harassment, non-payment of wages and poor working conditions.
Indonesian maids typically work seven days a week for as little as 400 ringgit (113 dollars) a month.
Thursday, June 11, 2009
Tebak Ini Shooting di Mana? :)
Dan... kita pun memutar beberapa lagu *semacem request2an di radio*
Dan... tiba2 rasa penasaran itu muncul... Eng ing eng... inilah gua sekarang... sedang browsing Youtube mencari video klip dari lagu2 yang tadi diputer :p
Salah satu lagunya adalah ini...
The place where they shot the video clip might be so familiar for some of you! :)
Yang paling menarik adalah judul lagunya... Semakin Dikejar Semakin Jauh... Emang maling??? :D
Friday, January 23, 2009
A Sg-an Who Loves Indo?
The bus was so full of people that we are 'forced' to stand in front, just next to the driver, who is an Uncle in his 50s.
Then suddenly the Uncle talk to us in Chinese, asking me something. Me & my friend dunno what to answer coz we couldn't understand what he was asking about. Seeing our confused look, the uncle asked us again (still in Chinese) whether we can speak Chinese. I answered that I can't. He asked us where we came from. Both of us replied "Indonesia."
Then he said, "Oh... Indonesia... You ah... your face look like Chinese but you cannot speak Mandarin..."
"That's why we are unique what..." I replied *with Singlish of course :)*
"So... why don't you learn Mandarin?"
I didn't answer. Honestly, I don't really have any good reason why I didn't try to learn Mandarin. I wanted to answer, "I prefer to learn Japanese than Mandarin.", but I don't think that sentence really answer the Uncle's question, coz you can learn both languange at the same time right? For me, dunno why... I don't have a 'heart' to learn Mandarin despite the fact that:
- Mandarin is a great language (full of philosophy in the characters),
- I look like Chinese :)
- I'm currently living in Singapore (Mandarin is a common language used here).
Well... let's just say that I'm more passionate to learn Japanese. Continue...
"So... what language you are using?" he asked.
"English and Bahasa." I replied. *I actually wanna add "And Sundanese (it's my fave anyway! :)", but not sure whether he knows what Sundanese is :)*
And then... the long (but interesting) conversation began. *the Uncle is definitely a very2 talkative one. We spent about 40 minutes at the bus talking*
What were we talking about? About how good Indonesia is. Some points that the uncle mentioned:
- He once stayed & ran a business in Indonesia (Jakarta & Medan) in 1978's.
- He admired Soeharto. Why? Because in Soeharto era he can easily import things 'without paying taxes', just pay the people who worked at the border. He said things are different now coz the law is stricter. *Honestly... I'm speechless (and definitely cannot agree with him)... I just said that it's good now that the law is strict*
- He talked about Indonesian women. He said they are beautiful (compared to Sg women), could really take care of their husbands coz they don't have to work (and he loves the idea), and that they have good skin (I dun really understand what he meant, but I tried to rationalize by saying "Maybe because they have more time to take care of themselves coz they are not working? :)"
- He talked about how stressful living in Sg. He mentioned that Sg-an only think about money... money... and money...
- He loves Indonesia because there you can still feel feel fresh air in the morning , see green pastures, trees and mountains (where in Singapore all you see is HDB or any other tall buildings :p)
- He loves Indonesian food coz it's tasty and cheap. He mentioned how he likes Indonesian 'buah salak' and 'sarang burung wallet'.
- He's amazed how Indonesian can enjoy eating only nasi and ikan bilis, and eating it just by sitting at the road side (while in Sg people are so fuzzy about food and eating at a proper place)
Too much eh? Well... I would think so. I mean... the bus was full of people (which I believed most of them are Sg-an) and he talked so loudly that anybody standing in the front part of the bus could hear what he said. I saw some of them smiling and some just pretending that they didn't hear the conversation...
It's just awkward to hear that kind of remarks coming from a mouth of a Sg-an. Until it came to one point that I actually asked him, "Uncle, are you Sg-an?" Well... he is :) and in other occasion I have to say "Uncle, could you please stop? You make me feel homesick :)" and he just laughed.
Overall, he is a nice person and it was a nice conversation. After I alight from the bus, somehow I feel very happy that there are actually people who can see a positive side of my country. But somehow I also feel sad for him coz he think negatively of his own country. Near the end of the conversation I said to him, "Uncle, Sg has so many things to be proud about. It's safe and clean (which he agreed). The transportation system is so greatly organized that I feel really convenient travelling although I use public transportation."
I can actually mention many many great things about Sg, but because time constraints I could not...
Anyway... the point is... Every country has its own good and bad things, rite? And countries can learn from each other.
I think Indo can really learn a lot from Sg (especially in public policy, law enforcement, transportation system, city planning, etc.) ... and Sg can also learn from Indo (work/life balance, how to cook good food, how to live happily without the need for lots of money, etc. )
Saturday, January 17, 2009
As Good As It Gets
Last month a financial tidal wave washed over Indonesia, but not the one kicked up by the global credit crisis. Money flooded into government coffers from individuals and corporations eager to avail themselves of Jakarta's "sunset policy" on tax delinquency, which forgave past evasions in exchange for good behavior going forward. The exact size of the surge isn't yet known, but economists estimate that tax receipts were up more than 50 percent for the year. "We saw quite a big jump" in revenue in December from "taxpayers who never existed [on the tax rolls] or want to correct mistakes made in the past," says the plan's creator, Finance Minister Sri Mulyani Indrawati. Indonesians, she adds, are honoring their tax obligations "in a much more accurate way."
The influx marks a major triumph for Indonesia's current government and, in particular, for the woman who put Jakarta's financial house in order. Over the past four years, Mulyani has helped dismantle the financial architecture of the crony capitalism built by strongman Suharto before his 32-year reign ended in 1998. She has pressed hard to slash debt, both public and private; pushed through a rollback of budget-busting fuel subsidies; and overseen sweeping reforms of the customs and tax authorities—position ing Indonesia to post the world's best (or at least the least bad) emerging-market growth story in 2009. Unnoticed until recently, Jakarta's conservatism is now the envy of the developing world, and Mulyani is being hailed as a model regulator. "She could be the finance minister anywhere in the world," says James Castle, founder of the consultancy CastleAsia. "She's that good."
Largely to Mulyani's credit, the country's balance sheet is now among the most conservative in the world; government debt now sits at just 30 percent of GDP, down from more than 100 percent a decade ago, while Indonesia Inc. is far less leveraged than its peers elsewhere in Asia. Despite that relative austerity, growth is being driven both by commodities—Indonesi a's traditional mainstay—and by strong domestic consumption from a population approaching 240 million. And neither the commodity bust (which has also driven down the price of the imported energy on which Indonesia depends) nor tighter global credit looks set to hobble a country that, from the household to the boardroom and cabinet chambers, is all but debt-free.
Indeed, Indonesia is one of just three major emerging economies forecast to grow faster than 4 percent in 2009. The other two—China and India—have decelerated more rapidly in recent months and face tougher policy challenges. Mulyani says Indonesia could expand by as much as 5.5 percent this year, which is barely slower than the 6 percent it clocked in 2008, and perhaps enough to pip one of its two Asian counterparts in this year's growth race. Not bad, considering that the country's economy collapsed in 1998, shrinking 18 percent in a single year. Wolfgang Fengler, a senior economist at the World Bank, says Jakarta's macroeconomic management is now "as good as it gets."
Indonesia owes its turnaround to an ensemble cast. President Susilo Bambang Yudhoyono has provided the political stability and pro-globalization vision that underpin today's successes. Boediono (who goes by one name) was a deft coordinating minister for economics until he handed the brief to Mulyani last May to head Indonesia's central bank, and Trade Minister Mari Pangestu deserves plaudits for kick-starting Indonesia's export economy. Yet Mulyani stands out for her toughness. She says her staff had to "swallow a lot of very bitter reality" during her first six months on the job. After landing there, for example, she confronted senior staff: "How can you send your daughter or your son to study abroad when you earn only this kind of salary? Where did you get the money?" To which she added: "You have to admit: we are all committing this crime." Her staffers still work evenings and weekends to meet her expectations, and she's been known to tangle with colleagues. Last year she lobbied intensively to ram through a deeply unpopular reduction in fuel subsidies that President Yudhoyono initially opposed. "She got her way because she is capable of playing politics," says Anton Gunawan, chief economist at Bank Danamon in Jakarta.
Yet by raising pay for bureaucrats, and not demonizing those who previously took payoffs to make ends meet, she has raised standards and steeled a reputation as an incorruptible reformer. Her message to her staff is simple and positive: "I only have one goal: I want the Indonesian people to trust us, this department, because this country will go nowhere if the people don't start to trust their own government." Though nobody would yet describe Indonesia as a model of transparency, the changes in its taxation and customs administrations have been profound, and in turn have enhanced Indonesia's growth potential to the point that "the world needs to update the way it thinks about the country," wrote Nicholas Cashmore, CLSA investment bank's Indonesia analyst, in mid-2008, declaring: "Southeast Asia's largest economy is in great shape." And thanks to Mulyani, Indonesia is garnering more respect by the day.
Thursday, September 18, 2008
Keturunan?
Baru aja dikasih tau temen soal film Indo baru, judulnya "Kita Punya Bendera". Bercerita tentang seorang anak keturunan Tionghoa yang mengalami semacam 'krisis identitas'. Terutama waktu disuruh ngisi formulir dan di dalemnya ditanya soal 'Keturunan'.
Buat lebih jelasnya silakan liat trailernya di sini dan baca reviewnya di sini dan di sini.
Gua sendiri ngalemin hal yang sama kaya' Timmy. Ga di Indo... ga di Sg... pertanyaan ini selalu ditanyain. Dan gua sampe sekarang kadang suka bingung mo jawab apa. 'Krisis identitas' nih :)
Waktu sekolah, sering banget disuruh ngisi formulir yg nanyain soal suku/etnis/keturunan, gua kadang mikir dulu mo jawab apa. Pengennya sih jawab "Sunda", soalnya gua lahir & besar di Bandung, SD-SMP belajar bahasa Sunda, di rumah pun pake Sunda, ngobrol sama beberapa temen pun pake Sunda, ga pernah pake Mandarin. Tapi... kalo gua jawab Sunda, pasti ntar heboh dan dipanggil guru. Hehe... Lagipula orang Sunda nya juga emang mau ngakuin gua sebagai bagian dari mereka? :p
Waktu di Sg... Pas interview gua suka ditanya, "Are you Indonesian?".
Ya gua jawab "Yes."
Tapi biasanya si penanya bakal nanya lagi, "You mean... Indonesia-Indonesian?"
Kalo dah gini gua bakal mengernyitkan dahi. Berhenti sebentar. Udah pengen banget ngomong, "Maksud loe !?! Ambigu banget. Apa maksudnya 'Indonesia-Indonesian'? Bahasanya ga sophisticated banget si! Bilang aja native ato indigenous!"
Tapi biasanya dengan sabar gua bakal jawab, "Errmm... I'm Indonesian"
"Chinese-Indonesian?" (biasanya sambil ikut2an mengernyitkan dahi dan nadanya mulai hati2)
"Well... some people refer as that, but I prefer to be referred as 'Indonesian'"
"But you are Chinese descendant, rite?"
Duuhhhh... ni orang ngotot banget! Ya udah, gua jawab, "Yes."
Baru mereka menunjukkan tampang lega karena dah dapet jawaban.
Dan gua jadi bete :(
Another case, waktu gua di Imigrasi Sg, waktu pengurusan Permanent Resident. Petugasnya bilang kalo gua harus ngisi pilihan soal ras. Gua tanya pilihannya ada apa aja. Dia kasih liat di layar komputernya. Ada Chinese, Hokkien, Indian, Malay, dll.
Terus gua tanya, "Do you have 'Indonesian' as a choice?"
Si petugasnya, dan juga seorang staff penyedia jasa imigrasi yang nemenin gua ke kantor imigrasi, masang tampang bingung.
"Ermm... No." kata petugasnya.
"Okay then... Chinese."
Kasus terakhir yang gua alemin tuh sekitar 2 minggu lalu waktu gua pergi sama sahabat karib gua di Jakarta nemenin dia ke rumah ortu cowonya. *I know...it's kinda weird, but I have to go there :)* Pacarnya sahabat gua tuh orang Batak.
Waktu di rumahnya, gua diajak ngobrol sama bokapnya cowonya temen gua.
"Ade' namanya siapa?"
"Ita, Om."
"Kristen?"
"Iya, Om."
"Ahh... bagus... bagus... Kita itu punya satu Tuhan. Ga peduli Batak, ga peduli Manado, semuanya satu di hadapan Kristus."
"Bener, Om."
Lalu si Om cerita2 sedikit soal rumahnya. Ga lama kemudian Om nanya lagi, "Ade orang apa?"
"Lahir di Bandung, Om"
"O.. orang apa ya?"
Baru ngeh ternyata si Om nanya soal suku.
"Ermm... Sunda, Om."
"Hah! Orang Sunda? Ga ada orang Sunda yang putih kaya' gini."
"Err... keturunan Tionghoa, Om."
"O.. ya.. pantes.. pantes.. keturunan ya.."
Haha! Si Om emang lucu. Ternyata beliau penasaran juga. Dan mungkin nganggep gua orang Manado (yg katanya kulitnya putih)
What an experience! Dipikir2... nekat juga gua jawab Sunda :p
Well.. yg jelas gua personally masih bingung. Gua tau faktanya kalo gua keturunan Tionghoa. Tapi diliat dari kehidupan gua sehari2, ga bisa dibilang Tionghoa juga. Lebih keliatan Sunda daripada Tionghoa.
Kalo mo jujur, dalam opini pribadi gua, istilah "Chinese-Indonesian" (C-I) itu seharusnya dihapus. Istilah pembentuk tembok pemisah kaya' gitu, menurut gua, ga usah ada lah.
Yah... tapi memang hal kaya' gitu ga memungkinkan. Kehidupan berbangsa & bernegara itu ada aturannya sendiri. Scholar2 juga masih memerlukan istilah C-I dalam research2 yang mereka jalani tentang relasi & proses asimilasi C-I dengan pribumi.
Kalo ditilik2, istilah C-I emang agak riskan karena sejarahnya juga. Sebenernya akar permasalahan dimulai dari masa penjajahan Belanda dimana penjajah menetapkan pemisahan menjadi 3 strata: strata paling tinggi adalah Belanda & keturunannya, di bawahnya adalah Timur Asing (Chinese termasuk di sini), di bawahnya lagi pribumi (pri). Chinese (C) diberi hak mengurus segala hal berbau bisnis/perdagangan dan orang pri mengurus pemerintahan. C dikasih perumahan tersendiri yang terpisah. Jelas asimilasi jadi sulit. Dan karena ngurus perdagangan, C jadi lebih banyak duit, lebih makmur daripada pri. Apakah ini bisa dibilang adil?
Lanjut... jelas pri pengen juga banyak duit donk, dan satu2nya hal yang bisa mereka bisa pake sebagai 'alat' cari duit adalah kedudukan mereka sebagai pejabat pemerintahan. Mereka punya otoritas mengatur peraturan & perijinan dagang.
Bayangin... C punya duit, pri punya kedudukan... ada yang bisa dibarter donk... ada simbiosis mutualisme... dan di situ dimulailah yang namanya korupsi... C kasih duit, pri 'meloloskan'/'mempermudah'...
Jelas waktu itu mereka belon mengenal istilah 'korupsi'. Buat mereka, praktek itu merupakan praktek yang wajar dan, bahayanya, jadi mendarah daging.
Bayangin apa yang udah diwariskan oleh penjajahan Belanda terhadap kehidupan sosial Indonesia. Pengkotak-kotakan etnis dan korupsi. Warisan yang, menurut gua, sangat buruk. Apa mo kita pertahanin warisan yang kaya begini?
Kembali ke soal keturunan. Masih banyak hal yang harus gua 'beresin' soal persepsi gua terhadap latar belakang gua. Tapi yang jelas, kalo gua ditanya, gua ga bakal bilang kalo gua C-I, kecuali terpaksa banget. "Indonesia" aja udah cukup.
Hidup Indonesia satu! :)
Wednesday, September 17, 2008
Indo & Sg
"Home is where your heart is."
So... sekarang mana yang elu consider sebagai 'home'? Indo? ato Sg?
Pusink yeuh... Kalo lg di Sg pengen balik Indo, tapi pas Indo juga kangen Sg. *Jadi maunya apa sih?*
Gua cinta ma Indo. Gua bener2 sadar kalo Tuhan punya maksud tertentu kalo sampe gua dilahirin di Indo.
Hubungan gua sama Indo emang sempet mengalami pasang surut. Dulu waktu kecil gua bangga banget jadi orang Indo, negara berkembang yg kemajuannya pesat. Menginjak remaja, esp mulai tahun 96an, rasa kebanggaan itu pudar diganti rasa benci. Hal ini sedikit banyak karena krisis multidimensi yang melanda Indo dan pelampiasan 'rasa tidak suka' yang ditumpuk bertaun2 dan akhirnya memuncak pada tindakan anarkis berbau diskriminasi di dalam kerusuhan2 yang terjadi.
Keluarga gua kena imbas langsung dari salah satu kerusuhan. Pada kerusuhan di kota T, ruko adik mama gua dijarah dan seudah itu dibakar habis oleh massa yang kalab. Bener2 habis. Ga ada yang tersisa.
Waktu perisitiwa itu terjadi, di ruko itu ada buyut gua (mamanya kakek) yang memang tinggal di sana & saat itu lagi jaga toko. Waktu itu umurnya 90 lebih dan hanya ditemani seorang suster yang usianya juga udah tua. Adik mama lagi ga ada di toko karena lagi ada keperluan di luar. Untungnya, di tengah kerumunan massa yg masuk & menjarah toko, masih ada orang yg 'waras' yang manggil tukang becak & minta nganter mereka berdua dengan selamat ke rumah kakek gua.
Semenjak itu, adik mama gua mulai usaha lagi dari nol, kerja sebagai sales di perusahaan pasta gigi. Sedangkan buyut gua kondisi kesehatannya menurun drastis, dan ga lama kemudian beliau meninggal. Anggota keluarga menduga beliau trauma karena ngeliat langsung kerusuhan yang terjadi di ruko itu.
Kejadian itulah yang memicu kebencian gua sama negara ini. Dalam hati, gua menyalahkan peristiwa kerusuhan itu, gua menyalahkan orang2nya. Gua ga bisa terima. Gua marah. Gua terus mencari2 kesalahan bangsa ini.
Tapi... Tuhan emang punya rencana tersendiri...
Kalo ga ada kejadian2 buruk di Indo, mungkin gua akan berteriak2 "Gua bangga jadi anak Indo" dengan tanpa makna yang dalem & meresap :)
Kejadian2 kerusuhan itulah yang bikin gua mulai bertanya, "Kenapa sih gua lahir & dibesarin di sini? Di tengah negara yang ga ada harapan ini. Di tengah bangsa yang carut marut begini?"
Pertanyaan itu terus tertanam. Dan gua bertekad harus dapet jawabannya.
Well... thanks GOD kalo pencarian jawaban gua diarahin ke arah yang bener :) Sedikit demi sedikit jawaban mulai dibukakan.
"Forgive. Love the person who's unfair to you."
"Be compassionate to this nation."
"Be MY light who shines in the darkness of this world."
Definitely not easy, but doesn't mean not possible.
Masuk jurusan Hubungan Internasional (HI) bikin gua lebih kenal negara ini dan kebobrokannya. Tapi bukan berarti ini bikin gua jadi kembali benci negara ini. Sebaliknya, gua tambah 'terbeban' & compassionate buat bangsa ini. Masuk HI pun memperluas cara pandang gua. Dulu gua berpikir (dan sampe sekarang banyak orang masih berpikir) "Kalo elu cinta Indo kenapa sekolah, kuliah, kerja di luar negeri? Ninggalin Indo". Jelas ini pemikiran yang salah. Diplomat dan duta besar ada orang yang berjuang di luar negeri buat mempertahankan nama baik Indo. Dan semua orang Indo yang di luar negeri adalah "diplomat2 dan duta2 kecil" buat Indo. So... buat gua & orang2 Indo yang ada di luar negeri... please behave! Jaga nama baik Indo!
And here I am, permanent resident of Singapore... Gua juga bersyukur banget sama Tuhan kalo gua boleh diijinin mengecap kehidupan di luar Indo (in this case Sg). Selama di Sg gua ngerasa 'bertumbuh', spiritually, mentally, & physically *sampe overweight begini :)* Gua sadar kalo gua tetep tinggal di Indo gua bakal jadi anak 'manja', ga bakal sedewasa & semandiri sekarang.
Dan kalo satu saat gua harus ninggalin Sg, jujur gua ngerasa berat. This country has taught me many new things about life, about dream, about how small & incompetent I am, about opportunities, about potential, about willingness to always improve, about struggle, about determination, about relationships, and... about how wonderful Indo is :)
Hahh... kangen Sg ni... :)
Tuesday, September 2, 2008
Pulang Indo :)
Akhirnya back to Bandung!
FYI, gua di Indo dari tanggal 30 Agustus-22 September. Kalo perlu ngeghubungin, no Indo gua (62)81394894018.
Ada beberapa cerita dari perjalanan pulang kemaren...
1. Cerita tentang kebetulan *ato pertanda?*
Jadi begini... alasan gua memilih pulang ke Jakarta tanggal 30 Agustus tuh supaya gua bisa dateng ke acara pameran pendidikan Jepang di Jakarta Convention Centre hari Minggunya (31 Agustus). Entah kenapa, selama perjalanan pulang kemaren banyak diperhadapkan dengan hal2 berwangi Jepang, terutama hari Sabtu. Bermula dari les Jepang di Sabtu pagi *ini sih biasa*, terus pas gua nunggu boarding pesawat ternyata TV di ruangan itu nyiarin acara Japan Hour (tentang travel keliling2 Jepang) di Saluran-Berita-Asia. Gua nonton2 sambil smsan sama temen di Oz yang udah pernah ke Jepang. Dia bener2 bikin gua ngiler pengen ke Jepang.
Cerita berlanjut ketika naek pesawat. Gua klo naek pesawat selalu pilih seat yang deket jendela *biar bisa liat pemandangan di luar*. Waktu gua duduk, plek, gua liat jendela di sebelah kiri. Ternyata... pesawat Japan Airlines! Dalam hati gua berkata, "Sabar... sabar... kapan2 elu bakal naekin tuh pesawat!"
Lanjut lagi... pas pesawat mendarat di Sokarno-Hatta... pemandangan jendela kembali menunjukkan pesawat Japan Airlines. Oh! Tidak! Dari manakah datangnya semua godaan ini? Gua jadi bener2 berpikir... Kebetulankah? Pertandakah? *Maksudnya pertanda gua harus ke Jepang. Hohoho...* Klo emang pertanda, memang sebegitu bodohkah daku sampe harus dikasih tanda2 yang obvious & bertubi2 kaya gitu?
2. Cerita tentang pengalaman pertama
Banyak hal baru yang gua lakuin di Jakarta kemaren:
-Naek bajaj. Yup, ini keinginan gua dari dulu yang ga pernah kesampean *kasian amet deh lu!*
-Naek busway. Kesampean juga! :) Buset bo! Kapok juga naek busway! Ngantri nya itu lho... Lama dan berdempet2an... Kepanasan...
*btw, thanks banget buat sahabat gua & cowonya yang udah bersabar mengikuti keinginan gua yang agak2 aneh*
-Pergi ke 2 mall baru, Senayan City dan Grand Indonesia.
-Nyobain makanan baru! Di antaranya *catet! DI ANTARANYA, bukan semuanya*: Soto Kudus *konon ini untuk orang2 yang tidak kudus seperti gua :p*, ayam bakar Chicken Story, es krim Dairy Queen, Bakso Lapangan Tembak Senayan. Huahaha! Ngiler ngiler deh :p
-Public figure yang pertama kalinya gua liat secara langsung: Tukul, Dewi Rezer, dan Sydney Mohede
3. Cerita tentang ditinggalin
Jadi... sahabat gua tuh udah pesenin travel buat gua buat hari Senen jam 8. Kita berdua bangun jam 6.30... mandi... berangkat jam 7.40an... bangunin supir taksi yang lagi tidur di pinggir jalan (beneran!).
Ga disangka, ternyata macet! Sobat gua ngira ga bakal macet soalnya hari pertama puasa (sekolah2 pada libur). Sampe jam 8.05 belon nyampe tempat travelnya. Akhirnya ditinggalin deh...
Untung temen gua siaga (siap-antar-jaga). Dia langsung telpon travel laen dan booking jam 9. Jadi gua balik jam 9. Nyampe Bandung jam 11.
Friday, May 30, 2008
Aku dan Indonesia
Kok bisa dapet bukunya? Hari Minggu kemaren dikasih pinjem sama salah satu penulis artikelnya. *sayang.. cuma dikasih pinjem.. Hahaha!*
Gua bisa lumayan cepet selesai baca bukunya soalnya minggu ini (entah kenapa) gua sering banget dapet MRT yang ga penuh sesak dan juga dapet tempat duduk di MRT, jadi bacanya nyaman… dan bisa cepet.. Hihi..
Peluncuran bukunya tuh hari Sabtu, 24 Mei. Gua tertarik banget buat dateng sih *idung udah ga tahan mencium bau2 Indo.. apalagi bakal berbau2 poleksosbudhankamnas ><* Tapi… di waktu yg sama juga ada Youth Fellowship... jadi ga bisa dateng… Ihiks.. ihiks… berat juga harus ngambil keputusan ini.. Yang lebih menyakitkan lagi.. malemnya gua chat sama si penulis artikel itu dan dia bilang ada talkshow sama Dr. Aris Ananta & Mas Andi Wijajanto, MSc (PhD candidate of S.Rajaratnam School of International Studies and professor of Social and Politic Faculty of the University of Indonesia).
Euh… manyun deh.. Pengen liat Mas Andi langsung. Kalo sama Dr. Aris sih dah pernah ketemu & jabat tangan... *ga berani banyak ngobrol… takut keliatan begonya.. Hoho..* Ngebet banget ketemu sih? Yah.. kagum.. kagum.. Artikel Mas Andi tuh bacaan gua sehari2 pas waktu kuliah dulu..
OK. Kembali ke buku. Seneng bisa baca bukunya! Rationally-and-emotionally-related banget sama buku itu, soalnya topiknya gua seneng (Indonesia) and penulisnya adalah temen2 senasib (orang2 Indo yang ada di Singapur). Waktu lagi baca buku itu, sering banget terbersit di pikiran “Wahh.. ini mah gua banget!!!”
Inspired by the book, gua tulis surat cinta buat Indonesia.
Singapura, 29 Mei 2008
Ndo sayang..
Saya tau saat ini kamu merasa dikhianati & ga habis pikir kenapa saya ninggalin kamu.
Mungkin yang ada dalam pikiran kamu saat ini, “Katanya sayang, tapi kok ninggalin? Kenapa?”
Saya memang pernah bilang kalo saya sayang sama kamu. Dan memang saya masih sayang sama kamu.. sungguh..
Cukup sulit buat saya untuk ngasih penjelasan. Untuk saat ini saya hanya bisa bilang kalo saya pergi ninggalin kamu karena saya merasa ini adalah jalan yang udah Tuhan tetepin buat saya, dan ini jalan yang terbaik buat kita berdua. Saat ini Tuhan ingin saya di luar negeri supaya saya bisa ningkatin kemampuan saya, nambah pengalaman, mengasah mental & kepribadian, mencari modal, membangun networking dan (saya percaya) masih bannyakkk lagi hal2 besar lainnya yang Dia rencanain. Dan saya percaya… kamu juga ada di pikiran Tuhan waktu dia nge-plan hidup saya. You are an indispensable part of my life… semua hal lebih baik dan yang terbaik yang Tuhan kasih buat saya bakal saya bagi sama kamu juga.
Saya ga tau kapan saya bisa berada di deket kamu lagi. Saya masih belum tau apa rencana Tuhan ke depannya buat hidup saya. Mungkin saya akan dikirim lagi ke negeri lain, ke tempat yang lebih jauh lagi… ato mungkin saya bakal kembali ke sisi kamu…
Untuk saat ini, saya mohon pengertian kamu. Saya sadar kalo ngejaga hubungan jarak jauh tuh ga gampang. Saya ga bisa ada di sana pas kamu senang atopun sedih… saya juga lebih jarang denger kabar tentang kamu… Tapi percaya sama saya… kamu tetep ada di hati saya.
Please take a good care of yourself.
With love,
Ita
PS: Kemanapun saya pergi, orang2 akan menghubungkan kamu sama saya. Saya pasti berusaha jaga nama baik kamu. Oya, saya juga pasti akan terus simpen liontin Citizenship yang jadi pengikat cinta kita berdua!;)